Selasa, 13 September 2011

kesenian cirebon

Pengenalan pada Kesenian Cirebon
oleh Richard North, diterjemahkan oleh Bambang Setijoso
Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7
Kerajaan Cirebon
Para pendatang ke Keraton kuno Ceribon terkadang merasa seperti dibawa ke masa lalu. Efek visual dari arsitektur istana sangat menakjubkan. Dengan model gapura dua pilar yang dramatis dan dengan penuh perhiasan menghiasi pagoda seperti pada anjungan yang dikelilingi dengan dinding tumpukan batu bata merah tanpa semen dengan sisipan lempengan dari dinasti cina Ming, menjadikan keraton Cirebon lebih seperti candi Hindu Bali dari pada surau di Jawa Tengah. Ini sebenarnya tidak mengejutkan mengingat kurun waktunya kembali kejaman Hindu Jawa di abad ke1400 an. Sesungguhnya, para peneliti percaya bahwa ada semacam rangkaian sejarah yang terputus berkenaan dengan lingkungan Kerajaaan Cirebon dimasa Hindu Jawa yang lampau.

Arsitektur Jawa Hindu dari Keraton Kasepuhan (foto R North).
Sejak jaman dahulu kala, daerah pedesaan sekitar Cirebon telah menjadi pusat kehidupan dari seniman tradisionil, suatu kenyataan yang masih terjadi sampai saat ini. Sebagai tambahan, seperti disampaikan oleh Cohen dalam artikelnya “Multiculturism and Performance in Colonial Cirebon“, ada banyak petunjuk yang mendemonstrasikan bahwa keraton adalah pusat utama kesenian yang hebat dimasa lalu. Kurang lebih di akhir abad ini kegiatan di keraton Cirebon menurun, sebagian dikarenakan kesulitan finansial yang parah. Bagaimanapun akhir akhir ini, ketiga Keraton Cirebon telah sekali lagi menjadi aktip menjaga kelanggengan kesenian Cirebon.
Secaraumum Keraton Kasepuhan adalah dianggap yang paling tua diantara tiga kerajaan Cirebon, terletak pada tempat abad 15 dari Pakung Wati, istana dari sultan Cirebon pertama, Sunan Gunung Jati. Kerajaan itu memelihara sebuah museum yang mengesankan dengan memperagakan kereta kencana, warisan keris, ukiran kayu yang mengesankan dan beberapa instrumen gamelan, dan yang paling utama dari pada itu adalah – Gong Sekati atau Sekaten yang dibunyikan dua kali dalam setahun pada salah satu pelataran dari anjungan Jawa kuno tersebut. Yayasan Keraton Kasepuhan yang di organisir oleh P.R. Nata Diningrat telah mulai meningkatkan program program untuk membantu mempromosikan dan melestarikan warisan budaya Cirebon, termasuk secara periodik menjadi tuan rumah dari penyelenggaraan Festival Keraton Nasional.

Pintu masuk dari tempat kediaman Sultan pada Keraton Kasepuhan (foto: R North)
Keraton Kanoman hanya berjarak beberapa langkah kaki dari Kasepuhan dan memiliki kebudayaan yang sama penting dan kunonya. Bersamaan dengan anjungan dan gapura Hindu Jawa kuno, Kanoman juga mempunyai sebuah museum yang mempertontonkan kereta kereta Cirebon kuno, Keris dan Gamelan, meskipun yang tidak boleh dilupakan, peralatan Gong Sekati tidak dipertontonkan untuk umum. Keraton Kanoman memiliki sebuah sanggar yang aktip yang diberi nama Klapa Jajar, dipimpin oleh Pangeran Agus Djoni.

Pangeran Djoni (pakai selendang kuning) sedang menari gaya tayub pada ulang tahun sanggar Keraton Kanoman, Kalpa Jajar pada tahun 2006 (foto: R North).
Justru yang terkecil dan termuda dari ketiga kerajaan Cirebon – Keraton Kacirebonan – yang telah dengan sungguh sungguh memimpin membukakan kebudayaan Cirebon yang terpendam dan yang sebelumnya tertutup hanya untuk kalangan kerajaan. Almarhum Pangeran Haji Yusuf Dendabrata, lebih dikenal dengan sebutan Elang Yusuf, dahulu adalah orang yang benar benar membangkitkan kebudayaan Cirebon. Disamping menjadi patih dan menteri kesenian kerajaan, Elang Yusuf secara pribadi dahulu aktip dalam membangkitkan kembali seni gamelan Cirebon, tari tradisional, ukiran kayu, lukisan kaca, baju batik, arsitektur gaya Cirebon, dan wayang kulit, menjadi dalang wayang kulit di istana Kacirebonan beberapa waktu sebelum meninggal di tahun 2000.

Almarhum Pangeran Yusuf Dendabrata mendemonstrasikan gerakan tari Cirebon di rumahnya di Istana Kacirebonan pada tahun 2000 (foto: Jacques Brunet).
Lurah Seni dan Patih dari Keraton Kacirebonan saat ini adalah Anak sulung dari Elang Yusuf, Pangeran Haji Tomi Dendabrata yang meneruskan jejak orang tuanya. Haji Tomi adalah pendiri Sanggar Pekan Pandan yang mana anggota anggotanya terlihat dimana mana padapagelaran pagelaran tiga keraton Cirebon, juga terlihat pada tempat tempat lain di Cirebon. Haji Tomi telah berulang kali menjadi penanggung jawab kegiatan yang melibatkan seni Cirebon, termasuk melibatkan grup Cirebon dalam Festival Kesenian Keraton Indonesia yang terdirid ari 23 kekeratonan ternama. Ia telah berperan dengan sangat aktip dalam mendapatkan dukungan resmi pada bahasa Jawa dialek Cirebon, Jawa Cerbon, pada kurikulum di sekolah lokal. Sebagai pencipta tari tradisional bergengsi, ia telah menciptakan tari keraton baru untuk kekeratonannya. Proyek Haji Tomi yang lain adalah termasuk menolong membangkitkan kembali ansambel ketiga Gong kuno; yaitu Gong Renteng, Denggung dan Gong Sekati.

Pangeran Haji Tomi Dendabrata di Istana Kacirebonan pada tahun 2006 sedang mendemonstrasikan gerakan gerakan sebuah karakter dari Wayang Golek, berasal dari Cirebon kemudian menyebar kebagaian bagian lain dari pulau Jawa (foto: R North).
Adik kandung laki laki Haji Tomi, Elang Iyan Arifudin, disamping menjadi anggota sanggar yang menyolok, telah aktip melibatkan diri dalam mendokumentasikan dan melestarikan kesenian Cirebon. Ia sekarang sedang studi tentang batik gaya Cirebon di desa batik Trusmi dan telah magang pada pedalang Keraton Kacirebonan, Ki Kurnadi. Elang Iyan telah mendapatkan pengukuhannya atau penampilan resmi pertamanya sebagai dalang pada Keraton Kacirebonan di bulan Agustus tahun 2006.

Elang Iyan sedang menyuguhkan Wayang Kulit pada Keraton Kacirebonan pada tahun 2006 (foto: R North)
Halaman 6 - Dokumentasi oleh Orang Asing >>>
Web Desain : rahasia design

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar